Andai Rasulullah Bertamu ke Rumah Kita……
Bayangkan apabila Rasulullah SAW dengan seizin Allah tiba-tiba muncul mengetuk rumah kita…. Beliau datang dengan tersenyum dan muka bersih di muka pintu rumah kita. Apa yang akan kita lakukan ? Mestinya kita akan sangat berbahagia, memeluk Beliau erat-erat dan lantas mempersilakan Beliau masuk ke ruang tamu kita. Kemudian kita tentunya akan meminta dengan sangat agar Rasulullah SAW sudi menginap beberapa hari di rumah kita. Beliau tentu tersenyum…….. Tapi barangkali kita meminta Rasulullah SAW untuk menunggu sebentar di depan pintu karena kita teringat VCD 17 tahun ke atas yang kita pinjam dan masih ada di ruang tengah dan kita tergesa-gesa memindahkan dulu video itu ke dalam. Beliau tentu tersenyum……. Atau barangkali kita teringat sejumlah majalah dan tabloid mesum yang memuat wanita setengah telanjang yang baru kita baca dan masih tergeletak di ruang tamu, sehingga kita terpaksa juga memindahkannya ke belakang secara tergesa-gesa. Barangkali kita akan memindahkan lafaz Allah dan Muhammad dari ruang samping, lalu meletakkannya di ruang tamu. Beliau tentu tersenyum…….. Bagaimana bila kemudian Rasulullah SAW bersedia menginap di rumah kita? Barangkali kita teringat bahwa kita lebih hafal lagu-lagu barat dan lagu-lagu pop indonesia daripada menghafal Shalawat kepada Rasulullah SAW. Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengetahui sedikitpun sejarah Rasulullah SAW karena kita lupa dan lalai dalam belajar sejarah Islam. Beliau tentu tersenyum…….. Barangkali kita menjadi malu bahwa kita ternyata tidak mengetahui satupun nama keluarga Rasulullah dan sahabatnya tetapi hafal betul di luar kepala mengenai anggota Power Rangers atau Kura-kura Ninja, atau F4 dan sejumlah selebritis lainnya. Beliau tentu tersenyum…. Barangkali kita terpaksa harus menukar satu kamar mandi menjadi ruang sholat. Barangkali kita teringat bahwa para perempuan di rumah kita tidak memiliki koleksi pakaian yang sesuai untuk berhadapan kepada Rasulullah SAW. Beliau tentu tersenyum……… Belum lagi koleksi buku-buku kita di rumah. Belum lagi koleksi kaset kita dan orang tua kita. Belum lagi koleksi karaoke kita atau milik ortu kita. Kemana kita harus menyingkirkan semua koleksi tersebut demi menghormati junjungan kita ? Barangkali kita menjadi malu diketahui junjungan kita bahwa kita tidak pernah ke masjid meskipun azan berbunyi. Beliau tentu tersenyum……. Barangkali kita menjadi malu karena pada saat Magrib keluarga kita malah sibuk di depan TV. Barangkali kita menjadi malu karena kita menghabiskan hampir seluruh waktu kita untuk bersenang-senang atau hura-hura. Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita tidak pernah menjalankan shalat sunnah. Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita sangat jarang membaca al-Qur’an. Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengenal tetangga-tetangga kita. Beliau tentu tersenyum…… Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah SAW menanyakan kepada kita siapa nama tukang sampah yang setiap hari lewat di depan rumah kita. Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah SAW bertanya tentang nama dan alamat kaum penjaga masjid di kampung kita. Betapa senyum Beliau masih ada di situ……. Bayangkan apabila Rasulullah SAW tiba-tiba muncul di depan rumah kita….. Apa yang akan kita lakukan ? Masihkah kita memeluk junjungan kita dan mempersilakan Beliau masuk dan menginap di rumah kita ? ataukah akhirnya dengan berat hati kita akan menolak Beliau berkunjung ke rumah kita karena semua hal itu akan membuat kita kalut dan malu ? Maafkan kami ya Rasulullah ……………………….. Masihkah Beliau tersenyum ? Senyum pilu, senyum sedih dan senyum getir…. Oh, betapa memalukannya kehidupan kita saat ini di mata Rasulullah!
Mencari Teman Lama

/><zainal> assalamu ‘alaikum kang
<irp4n> waalaikum salam
<irp4n> kumaha khabarna
<irp4n> lagi izin ya
<irp4n> sampai jam berapa kang
<zainal> saya libur panjanggggggg
<zainal> jadi mo sampe malem ntar..ayooo
<irp4n> aduuuuuh, aku ada kencan nih punya waktunya engga lama
<irp4n> sampai shubuh aja ya sekalian
<zainal> ha ha ha ha ha….
<zainal> bisa aza
<irp4n> he he he
<irp4n> juga nya ketinggalan
<zainal> pan…ngobrol sama siapa aza?
<irp4n> eee gimana masih ingat ibu tetangga kan
<irp4n> aku lagi engga sama siapa-siapa
<irp4n> kita-kita aza
<irp4n> mau ke larmi, barangkali ada prvasi kita gitu
<irp4n> kecuali kalo janjian
<zainal> oh ya..ibu tetangga….kenapa..ada apa dengannya…
<irp4n> ingin tahu aza, masih ingat apa engga gitu
<zainal> inget dong…tapi inget soal apanya?
<zainal> senyumnya…ketawanya….sikap cueknya..atau??
<irp4n> ah, situ kan lebih tahu….
<irp4n> eee, kapan nih ke yogya…?
<zainal> ke jogja…rencananya sih awal maret ntar
<irp4n> makanya cepetan ke yogya
<irp4n> waaaah, kenapa engga sekarang
<zainal> eh ada info s2 di uny atau ugm gak pan?
<irp4n> yang jelas aku tahu sih di UGM ada, kemarin aku dapat brosur di MMnya
<irp4n> kalo UNY, belum cari informasinya
<irp4n> emang rencananya mau dimana
<zainal> asal jangan iain
<irp4n> oooooooooooooooo
<zainal> susye ternyata ijazah iain utk dunia kerja
<irp4n> kenapa juga kita kemarin ke iaian ya
<zainal> kamu juga sih kemaren menjerumuskan saya utk masuk ke lembah iain
<irp4n> bukan menjeruuumuskan, tapi kita terjerumus sendiri kan
<irp4n> dan saling merasakan duka citanya
<zainal> hidup iain
<zainal> kamu sendiri sekarang ngapain aja pan?
<irp4n> iya itulah, aku nuggu di usir dari yogya
<irp4n> makanya sebelum diusir ingin cepat keluar
<irp4n> insya Allah sih maksimal idul adha inginnnya udah out dari yk
<irp4n> hidup penggangguran
<zainal> anggur jaya..siang nganggur, malam berjaya
<irp4n> he he he
Read more…
Sertifikasi Guru (Agama dan Madrasah) Setengah Hati
Pada awal digulirkannya wacana tentang sertifikasi guru terlebih semenjak disahkannya UU No. 14 Tahun 2005 dan kemudian diiringi dengan Permendiknas Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru Dalam Jabatan, banyak guru termasuk guru agama dan guru madrasah yang bersukacita dan berharap dapat ikut serta dalam proses sertifikasi tersebut. Impian mereka sederhana saja yakni kesejahteraan akan meningkat drastis, karena siapapun tahu bahwa penghasilan guru dibanding profesi elit lainnya sangat jomplang. Namun seiring perjalanan waktu, terlihat bahwa wacana sertifikasi guru agama dan madrasah hanya merdu di luar saja, tidak seindah di kenyataan. Dimulai dari proses rekrutmen atau penjaringan calon peserta yang tidak transparan bahkan terkesan sembarangan (karena di lapangan ada guru yang belum genap mengajar 2 tahun sudah dipanggil melengkapi portofolio padahal masih banyak guru lain yang lebih senior, kesalahan entri data dll), minimnya sosialiasi yang memadai ke madrasah-madrasah atau sekolah mengenai sertifikasi dan portofolio sampai ke persoalan tunjangan profesi yang tidak kunjung cair bagi mereka yang telah dinyatakan lulus sertifikasi. Sulit melacak di mana letak kesalahan dan kekeliruannya karena pihak yang dianggap berwenang memberikan informasi terkesan bungkam dan tidak mau tahu (mudah-mudahan anggapan ini tidak benar!) bahkan Banjarmasin Post yang merupakan koran kebanggaan urang banua juga jarang menurunkan berita tentang derita guru agama dan madrasah. Kesimpangsiuran informasi dan ketiadaan kejelasan yang dapat dijadikan pegangan membuat guru agama dan guru madrasah yang ikut sertifikasi (terutama yang berada di daerah-daerah) menjadi apatis dan pada titik tertentu sulit mempercayai birokrasi. Seharusnya di tengah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi seperti sekarang ini, ketersediaan informasi yang memadai mengenai sertifikasi guru agama dan madrasah menjadi mungkin dan dijadikan prioritas oleh pihak-pihak terkait. Jangan sampai wacana sertifikasi yang pada awalnya bertujuan membangun harkat dan martabat guru ke jenjang yang lebih terhormat, menjadi sesuatu yang semu dan melahirkan kecewa babak kesekian buat para guru agama dan madrasah. Imbas negatifnya adalah citra birokrasi menjadi tercoreng dan dalam kadar tertentu dikhawatirkan berimbas pula pada menurunnya motivasi, dedikasi dan loyalitas kerja guru.
Menjadi Guru Madrasah
Satu hal yang membanggakan saya dari ‘being teacher’ di madrasah adalah dapat belajar untuk tetap tersenyum dalam kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki… Menjadi guru madrasah yang meskipun tidak terlalu sejahtera dan hampir dekat dengan garis demarkasi kemiskinan harusnya tetap membuat kita (kami dan saya!) percaya diri, selalu meluangkan waktu untuk belajar di sana sini, selalu rendah hati, selalu percaya dan berbaik sangka pada janji-janji penguasa tentang kesejahteraan guru yang katanya akan naik tinggi. Demikian lah… menjadi guru idealnya adalah sebuah pilihan sadar. Sadar bahwa tingkat kesejahteraan akan sulit meningkat, sadar bahwa tanggung jawab mendidik bukan sekedar rutinitas menghabiskan hari-hari datar kita yang berat… Entah lah, saya hanya ingin mengajak anda meneladani sosok bu muslimah di novel laskar pelangi… Guru yang sederhana dan mampu mengajar dengan hati yang bersih tentu akan memancarkan inspirasi dan gelombang kecerdasan hati yang mempengaruhi hati, nurani dan jiwa anak didik kita. Kata kuncinya adalah keikhlasan, tanpa pamrih dan tetap berdedikasi…. Seperti penggalan episode kehidupan guru yang saya jalani terakhir ini. Sebagai guru TIK Depag yang dinyatakan lulus sertifikasi tahun anggaran 2006 (angkatan pertama) sudah 1 tahun ini terus menunggu kepastian pencairan tunjangan profesi… jadi saya sudah terlatih untuk sabar, cuek dan tidak terbuai dengan janji-janji manis pemerintah soal kesejahteraan guru. Begitu pula dengan penggal episode di hidup saya yang terkait dengan permasalahan beasiswa S2 Depag yang pada ujungnya membuat impian untuk bisa belajar dan memperluas wawasan melalui jalur akademik resmi akhirnya harus buyar dan dienyahkan dari wish list. Mending yang pasti-pasti aja dah… kalo sekedar wacana, kasian para guru kecil miskin bodoh (tidak ngerti birokrasi) seperti saya ini yang senantiasa dininabobokan oleh kebohongan publik yang dibungkus dengan manis melalui lidah penguasa yang tak bertulang (makanya nyerocos terus tanpa henti). Oleh karena itu tulisan pa Dedi Dwitagama di blog beliau tentang penyamaan guru dan topeng monyet (mohon para guru jangan tersinggung, silakan baca artikel lengkapnya di blog beliau), saya merasa ada benarnya perumpamaan yang Pak Dedi berikan… setidaknya untuk saya pribadi. Saya pibadi tidak malu mengakuinya. Meski memang sepintas mirip topeng monyet, tapi topeng monyet yang diperagakan guru adalah imbas dari jeleknya sistem rekrutmen, in service training, minimnya perhatian pemerintah akan jeritan guru-guru kecil yang sebenarnya pengen menjadi lebih berkualitas dalam segalanya demi lebih mencerdaskan anak didik mereka namun terkendala biaya, dana, political will dan birokrasi yang senantiasa kurang berpihak. Saya kira seandainya monyet dikasih fasilitas oleh yang empunya untuk belajar sendiri, didukung penuh oleh fasilitas dan dana yang pasti, serta dimotivasi terus, tentu tu monyet akan lebih banyak menampilkan kreasi bahkan kreasi-kreasi indah yang tidak akan pernah dibayangkan oleh pemiliknya semula. Meski dianggap orang topeng monyet, saya tetap bangga menjadi guru… Meski ditertawakan orang terkait dengan keterbatasan cara mengajar, administrasi / perangkat pembelajaran, penggunaan media pembelajaran yang canggih-canggih dan seterusnya, saya tetap bangga menjadi guru dan tidak berhenti untuk mengajar. Karena mengajar buat saya adalah mendidik anak didik saya untuk belajar tidak menertawakan keterbatasan orang lain.. mendidik mereka agar kelak setelah jadi orang besar (atau meski tetap jadi orang kecil) bisa berbuat banyak demi membantu dan memandang dengan tulus mereka-mereka yang memperagakan topeng monyet tersebut.
Peranan Pendidikan : Mitos atau Realitas ?
Pembangunan merupakan proses yang berkesinambungan yang mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk aspek sosial, ekonomi, polotik dan kultural, dengan tujuan utama meningkatkan kesejahteraan warga bangsa serta keseluruhan. Dalam proses pembangunan tersebut peranan pendidikan amatlah atrategis.
John C. Bock, dalam Education and Development: A Conflict Meaning (1992), mengindentifikasi peran pendidikan tersebut sebagai : a) masyarakat idielogi dan nilai-nilai sosio-kultural bangsa, b) mempersiapkan tenaga kerja untuk memerangi kemiskinan, kebodohan, dan pedorong perubahan sosial , dan c) untuk meratakan kesepakatan dan pendapatan. Peran yang pertama merupakan Fungsi politik pendidikan dan dua peran yang lain merupakan fungsi ekonomi.
Berkaitan dengan peranan pendidikan dalam membangun nasional muncul dua paradigma yang menjadi kiblat bagi pengambil kebijakan dalam pengembangan kebijakan pendidikan: Paradigma Fungsional dan paradigma Sosiolisasi. Paradigma Fungsional melihat bahwa keterbelakangan dan kemiskinan dikarenakan masyarakat tidak mempunyai cukup penduduk yang memiliki pengetahuan, kemampuan dan sikap modern. Menurut pengalaman masyarakat di Barat, lembaga pendidikan formal sistem persekolahan merupakan lembaga utama mengembangkan pengetahuan malatih, kemampuan dan keahlian, dan menanamkan sikap modern para individu yang diperlukan dalam proses pembangunan. Bukti-bukti menunjukan adanya kaitan yang erat antara pendidikan formal seseorang dan partisipasinya dalam pembanguanan. Perkembangan lebih lanjut muncul, tesis Human Investmen, yang menyatakan bahwa investasi dalam diri manusia lebih menguntungkan, memiliki economic rate of return yang lebih tinggi di bandingkan dengan investasi dalam bidang fisik.
Sejarah dengan paradigma Fungsional, paradigma sosialisasi melihat peranan pendidikan dalam pembangunan adalah: a) mengembangkan kompetensi individu, b) kompetensi yang lebih tinggi tersebut diperlukan untuk meningkatkan produktivitas, dan c) secara umum, meningkatkan kemampuan warga masyarakat dan semakin banyaknya warga masyarakat yang memiliki kemampuan akan meningkakan kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, berdasarkan paradigma sosialisasi ini, pendidikan harus di perluas secara besar-besaran dan menyeluruh, kalau suatu bangsa menginginkan kemajuan.
Paradigma Fungsional dan paradigma Sosialisasi telah melahirkan pengaruh besar dalam dunia pendidikan paling tidak dalam dua hal. Pertama, telah melahirkan paradigma pendidikan yang bersifat analisis-mekanistis dengan mendasarkan pada doktrin redoksionisme dan mekanistis. Reduk sionisme melihat pendidikan sebagai barang yang dapat dipecah-pecah dipisah-pisah satu dengan yang lain. Mekanis melihat bahwa pecahan-pecahan atau bagian-bagian tersebut memiliki keterkaitan linier Fungsional, satu bagian menentukan bagian yang lain secara langsung. Akibatnya, pendidikan telah direduksi sedemikian rupa kedalam serpihan-serpihan kecil yang satu dengan yang lain menjadi terpisah tiada hubungan, seperti, kurikulum kredit SKS, pokok bahasan, program pengayaan, seragam, pekerjaan rumah dan latihan-latihan. Suatu sistem penilaian telah dikembangkan untuk menyesuaikan dengan serpihan-serpihan tersebut: nilai, indek prestesi, ranking, rata-rata nilai, kepatuhan, ijasah.
Read more…
Total Quality Education di Lembaga Pendidikan Islam
Beberapa waktu silam, UNDP mengeluarkan data baru yang menyatakan dari 173 negara di dunia, pendidikan di Indonesia terpuruk pada ranking ke-107 dan urutan 105 tahun sebelumnya. Lebih parah lagi ada negara-negara yang tingkat pendapatannya berada di bawah Indonesia tapi justru rankingnya lebih baik. Menurut staf ahli Menteri Bidang Pendidikan Dr. Faisal Djalal, Ph.D di Bandung kenyataan ini terasa menampar wajah kita. Beliau merasa sedih karena kualitas SDM bangsa Indonesia begitu menyedihkan. Posisi itupun jauh tertinggal di banding dengan negara-negara tetangga. Masalah Pendidikan di Indonesia selama ini memang belum menemukan rumus yang tepat dalam memodifikasikan Sistem Pendidikan Indonesia, baik yang bersifat prinsip maupun wawasan idealisme kedepan, salah satu contoh belum tuntasnya output secara efektif hasil pendidikan yang telah ditempuh oleh peserta didik.
Pada masa sekarang ini sebenarnya tidak hanya pendidikan umum saja yang dikembangkan tapi pendidikan Islam pun punya peluang untuk dikembangkan. Dan kalau mau mengkaji lebih dalam pendidikan Islam merupakan pendidikan yang idealis. Sebagaimana spesifikasi dalam pendidikan Islam tujuannya lebih dalam dan mulia yakni sebagai wujud dari penghambaan diri kepada Allah SWT sekaligus untuk memakmurkan bumi, serta membangun masyarakat yang adil dan sejahtera. Untuk itu manusia dituntut untuk menciptakan metode pendidikan yang dinamis, efektif dan dapat mengantarkannya pada kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Untuk dapat mencetak anak bangsa yang berkualitas maka kita harus tahu bagaimana cara memanaj pendidikan dengan bagus dan mengambil kebijakan tentang sistem dan kurikulum pendidikan yang akan kita terapkan sesuai dengan kondisi.
Untuk mewujudkan tujuan daripada pendidikan maka madrasah atau lembaga pendidikan masa depan harus dikelola dengan manajemen modern yang sekarang ini dikenal dengan istilah Total Quality Education (TQE) sebagai adaptasi dari Total Quality Manajemen (TQM).
TQE adalah suatu pendekatan dalam menjalankan aktifitas pendidikan yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing (Competitiveness) lembaga pendidikan melalui perbaikan secara terus menerus atau lulusan, palayanan ,proses dan lingkungannya.
TQE merupakan kombinasi dari sistem sosial, sistem tekhnik dan sistem manajemen yang dapat digambarkan sebagai berikut:
Dalam melaksanakan TQE ada empat prinsip utama yang harus menjadi perhatian, yaitu:
a. Kepuasan pada konsumen (siswa, wali siswa dan masyarakat).
b. Respek terhadap setiap orang.
c. Manajemen berdasarkan fakta, bukan imajinasi.
d. Perbaikan berkesinambungan (Tribus, 1999).
Untuk mendukung prinsip utama tersebut, ada sepuluh unsur utama yang harus pula menjadi perhatian, yaitu:
a. Fokus pada konsumen
b. Obsesi terhadap kualitas
c. Pendekatan ilmiah
d. Komitmen jangka panjang
e. Kerjasama tim
f. Perbaikan sistem secara berkesinambungan
g. Pendidikan dan pelatihan
h. Kebebasan yang terkendali
i. Kesatuan tujuan antar berbagai unsur
j. Adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan.







Komentar Terakhir