Nostalgia Dunia Internet (bagian 1)
Kotabaru, Kamis, 31 Juli, 2003
06:14:54
Pendahuluan
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Pa kabar vita? Setelah sekian lama gak ada kabarnya baru sekarang ini aja aku sempat ngirim email ke vita. Aku tentu saja akan sangat malu meminta maaf karena yah bagaimana lagi…aku bahkan gak pengen membahas alasan kenapa aku gak bisa berkirim kabar. Yang pasti adalah semenjak sekarang aku akan menyempatkan diri untuk berkirim kabar meski via surat. Terserah vita, apa mau ngebalas atau nggak juga tidak menjadi masalah besar buatku. Aku pengen menunaikan janjiku dan tanggung jawabku selaku kakak buat kamu, yang kapanpun di manapun kalo sempat insya Allah akan setia berkirim kabar dan melancarkan jurus jitak mesra ke adek. Kapan studinya kelar euyy? Dan kapan nih undangan nikah nya kuterima. Biar ntar aku bisa belajar cara membina keluarga yang baik dari vita. Gimana wida, heru, dina, imis dan tika juga sejumlah temen2mu yang lain terutama abangmu itu…….. suit..suittt…. huhuyyy!
Aku mo bercerita tentang lembaran baru dalam sejarah hidupku. Bukan lagi soal wanita atau studi tetapi soal pekerjaan. Bukan pekerjaan yang bersifat sampingan tetapi mungkin…. bisa jadi….. pekerjaan yang sekarang kudapat akan terus kugeluti sampai jangka waktu yang cukup panjang.
Aku menjadi guru di madrasarah aliyah negeri kotabaru. Kotabaru adalah kota kabupaten paling ujung kalimantan selatan, dipisahkan oleh selat dan kotanya berada di pinggir laut. Jarak tempuhnya dari Banjarmasin pake bis patas sekitar 8-9 jam perjalanan termasuk nyebrang pake ferry. Ongkosnya gak mahal, cuman 35rb rupiah aja. Sudah termasuk ongkos nyebrang ferry. Tapi belum terhitung makan minum selama di perjalanan. Cuman yang perlu kamu tau, rute sepanjang jalan menuju ke kotabaru itu jalannya gak enak … banyak jalan yang rusak, trus gak terlalu lebar kayak jalan raya di pulau jawa. Pokoknya kondisi jalannya menyedihkan gitu lah! Aku pernah pake bis malam pertama kalinya ketika mo pulang ke Banjarmasin, wah sepanjang malam aku gak bisa tidur karena bisnya terguncang terus2an.
Tentang Pengalaman Pertama Tinggal di Kotabaru
SK CPNSku terbit pada tanggal 21 juni 2003 tadi. Sekitar akhir juni aku lapor menghadap ke kantor departemen agama kotabaru dan ke kepala MAN bersangkutan. Ada 2 orang lagi teman seangkatanku (yang sama2 baru diangkat CPNS dan ditempatkan di kotabaru). Yang pertama namanya Ribhan asli Banjarmasin, ngajar bahasa inggris di MAN kotabaru juga, sama denganku. Oh ya aku ngajar bahasa arab untuk kelas 1-2 masing-masing kelas ada 4 lokal dan sejarah kebudayaan islam khusus untuk kelas 3 (ada 3 lokal). Kemudian satunya lagi Haris fadillah asal Gambut, dia ngajar agama di SLTPN 1 Pulau Laut Timur atau Berangas. Kami bertiga inilah mengawali petualangan kami di kotabaru dengan bekal pengalaman yang sama-sama minus. Sebagai sama-sama orang baru dan kebetulan sama-sama bujangan, kecuali haris yang sebentar lagi katanya mo nikah, kami cepat akrab dan cepat kompak. Mungkin karena kami sama-sama baru pertama kali datang ke kotabaru, dari segi umur kami tidak jauh berbeda cuman selisih sekian bulan aja sedang tahun lahirnya sama kecuali ribhan yang 76, (makanya kami cepat nyambung dalam ngobrol) kemudian kami sama-sama tidak punya kenalan atau keluarga terkecuali ribhan yang 2 orang om nya tinggal di kotabaru. Tapi yang jelas, aku ngerasa kalo kedua orang temenku tersebut adalah temen2 yang asyik diajak temenan. Kami udah berikrar untuk tetap komitmen memelihara jalinan pertemenan kami sampai kapanpun. Tidak hanya karena urusan pekerjaan dan kesamaan nasib juga profesi, tetapi karena anugerah pertemenan adalah suatu kekayaan yang tidak ternilai harganya.
Aku dan ribhan sering ngobrol di sekolah karena kami satu sekolah dan dia pun sering datang ke rumah, cuman akunya aja yang jarang main ke rumah dia soalnya dia tinggal ama om nya sih, aku kan gak enak ke sana. Kalo haris, berhubung jarak rumahnya sekitar 25 km an dari kotabaru maka kita jarang ketemu. Tapi aku dan ribhan sudah sepakat akan mengunjungi haris setidaknya 1 bulan sekali. Lagipula haris pasti akan datang ke kotabaru setiap awal bulan untuk ngambil gaji ke kantor depag. Jadi kemungkinan untuk bertemu satu sama lain masih sangat besar, terlebih haris sendiri sempat mengemukakan niatnya untuk tinggal di kotabaru segera setelah ia menikah dan memiliki motor sendiri. Jarak berangas-kotabaru cuman 23 km, kalo pake motor 30-45 menit mungkin bisa nyampe. Tapi kukira mending ia tinggal di sana dulu, pertama karena sebagai orang baru kalo bisa ya tinggalnya deket2 sekolah aja biar gampang bolak-baliknya trus pemborosan juga kan kalo sekedar pengen nyari yang ramenya aja dengan tinggal di kotabaru. Biaya kost di kotabaru cukup mahal…gak sebanding dengan biaya kost di tempat dia yang cuman 30ribu perbulan. Coba rumah kontrakanku, 125ribu per-bulan belum lagi listrik dan ledeng. Belum lagi langganan koran, katering, hiburan dan lain-lain. Eh kok malah curhat soal rumah kontrakan.
Ngomong2 soal rumah kontrakan nih. Sewaktu aku datang untuk yang kedua kalinya ke kotabaru bersama kedua orang tuaku skitar tgl 14 Juli tadi…kan rencananya pengen nyari rumah tuh buatku, ternyata nyari rumah kontrakan di kota sekecil ini susyeh nya minta ampun. Apalagi ortu ku pengen nyari rumah yang gak terlalu besar, juga gak terlalu kecil, yang cukup layak lah untuk bujangan keren seperti diriku (wuuuuuuu!). Apalagi keluarga besarku berniat kalo ada waktu lowong dan pengen berlibur ke pantai, mereka pengen bisa nginap di rumahku. Trus ortuku pengen lingkungan rumahnya yang tenang, aman dan deket dengan sekolahan trus yang pasti lokasi rumahnya cukup gampang didatangi, gak harus masuk gang yang berkelok-kelok trus nyusahin orang untuk nyari. Selama 3 hari pertama prosesi nyari rumah susahnya minta ampun, dari pagi sampe sore aku keliling sama ortuku nyari rumah. Padahal aku gak pengen mereka ikut tapi karena mereka bersikeras dan karena yang pegang uang adalah mereka (maksudnya mereka yang mo bayar rumah tersebut) lagipula ayah ibuku untuk urusan milihin rumah buat anaknya paling cerewet dan paling teliti tapi sekaligus paling kuandelin buat urusan nego dan lobby ke bapak/ibu kost. Kayaknya satu kota dah kita ubek2 untuk nyari rumah. Bahkan aku sampai nyasar ke rumah mantan pacarku waktu zaman kuliah yang aku sendiri bahkan nggak nyangka akan ketemu dia lagi di kotabaru. Untuk sessi cerita romans ini, kita bicarakan di lain waktu aja ya. Pokoknya yang pengen kujelaskan di sini adalah betapa pegelnya badan & pikiran untuk nyari rumah. Kebetulan pihak sekolah tidak menyediakan semacam rumah dinas buat guru2nya. Jadi ya terpaksa, karena kami gak punya keluarga yang ada cuman kenalan beberapa orang saja yang sama-sama satu kampung di Banjarmasin sana tapi gak enak untuk numpang nginap mo ke penginapan..penginapannya yang gak ada, akhirnya kami nginap di sebuah penginapan atau mess yang sebenarnya di hari2 tertentu dipakai kaum ibu untuk majelis taklim, karena mess tersebut kepunyaan depag kotabaru. Mess tersebut dekat dengan sekolah, dua tingkat dan fasilitasnya cukup lengkap kecuali sarana untuk masak saja yang nggak ada. Jadi kami kalo mo makan ya terpaksa nyari ke luar. Ada mesjid deket mess tersebut. Pas hari ketiga, ketika itu aku dan ayahku ikut sholat maghrib berjamaah di masjid (hari2 sebelumnya kami gak sempat ke masjid karena kecapekan), ayahku kebetulan diminta orang jadi imam, selesai sholat, wiridan dan I’tikaf, rupanya ada ibu sama bapak2 yang merhatiin kami trus mereka mendatangi kami sambil bertanya apakah kami orang baru pindahan di kampung mrk. Ayahku menjelaskan maksud keberadaan kami sekarang sambil memperkenalkan aku yang baru diangkat menjadi guru di MAN. Rupanya kedua suami isteri tadi sudah menduga dari awal dan katanya mereka sejak dua harian tadi memperhatikan kami yang seharian jalan untuk nyari rumah, rombongan anak ortu lagi. Mereka rupanya kasihan ngeliat kami dan minta maaf karena baru sekarang bisa ngobrol dengan kami. Akhirnya mereka menawarkan salah satu rumah milik anak mrk yang kebetulan baru dibangun dan masih belum ditempati anak mereka karena anak tersebut gak mau tinggal di sana. Kami, aku dan ortuku bersama-sama ngeliat rumah yang ditunjukkan oleh mereka. Pucuk dicinta ulam tiba, demikian peribahasa yang diucapkan ortuku. Pertama, lingkungannya enak (aman dan tenang), deket masjid, deket sekolah dan dekat dengan mini market juga warung makan. kedua, rumahnya mungil tapi bisa nampung keluarga yang mo nginap. Trus listrik dan ledeng punya sendiri dalam arti gak nebeng sama yang lain, trus listriknya cukupan buat aku bawa komputer, teve dan peralatan elektrik yang wattnya tinggi, airnya cukup lancar, sarana mck bagus, naruh motor enak…. Pokoknya ideal lah menurut ortuku, soal harga juga gak masalah. Yang jadi masalah cuman soal pendeknya masa kontrak rumah tersebut. Kata yang punya rumah, mereka sementara ini cuman bisa ngasih jangka waktu ngontrak selama 6 bulan karena mereka khawatir jangan2 anak mereka ntar mo pindah ke rumah yang mo kukontrak tersebut. Malam itu juga transaksi dilangsungkan. Suami isteri yang jadi bapak ibu kostku punya anak banyak, mereka –suami isteri tersebut beserta sejumlah anak mereka yang masih bujangan (yang berkeluarga dah pisah rumah katanya), ada yang sebaya aku, ada yang masih kuliah, ada yang masih sekolah aliyah dan SMP juga ada pula yang masih SD – kebetulan menempati rumah persis agak di samping rumah kontrakanku. Mereka menganggap aku dah kayak keluarga dan anak mereka sendiri, anak2 mereka pun cukup hormat dan manggil aku kakak. Ortu ku puas dan sampe sekarang mereka gak habis mikir, kenapa gak dari kemaren2 aja dapatnya. Masalahnya kita nyari sampe habis ke ujung2 sisi kota yang cukup jauh, eh taunya dapatnya malah yang deket banget dengan mess yang kita tumpangi nginap. Aku kira penyebabnya mungkin selain karena takdir Allah, juga karena kami nggak sempat meluangkan waktu lebih banyak ke masjid terutama pas waktu maghrib yang biasanya banyak dipenuhi jamaah warga masyarakat setempat. Coba kalo kami memulai nyari dari bertanya ke lingkungan masjid mungkin ada aja informasi. Tapi ya yang namanya rezeki dan takdir juga musibah kadang bisa datang lewat jalan yang tidak kita duga-duga.
Oh ya…..ada satu hal kecil juga yang perlu kuceritain terkait soal rumah. Rupanya Allah ngasih kado spesial buat ultahku tgl 18 juli tadi dengan beresnya urusan ngontrak rumah, ditambah dengan pertemuan kembali aku dengan mantan pacarku yang udah lama banget gak pernah ketemu lagi. Dia memang asli kotabaru, tapi kabar terakhir yang kudapat dari temennya, dia kerja sebagai asisten apoteker di sebuah rumah sakit swasta di samarinda sana dan denger2 lagi katanya dah tunangan. Jadi kupikir rasanya gak mungkin lah ketemu dia di kotabaru. Eh ternyata kabar tersebut salah, dia sekarang tinggal di kotabaru dan kerja di rumah sakit sini. Soal tunangan yah emang begitulah adanya katanya, tapi dia mengaku masih belajar menerima tunangannya tersebut, dia ditunangkan kakeknya yang (aku baru tau sekarang nih…) untuk wilayah kotabaru termasuk jajaran tokoh ulama yang sangat disegani. Untuk urusan tunangan ini dia gak mau terbuka dan cerita banyak ke aku. Dia juga yang ngingetin aku lewat sms tentang ultahku dan ngucapin selamat ultah paling duluan, trus repot2 bawa kue tart kecil sederhana ke rumahku. Ortuku masih ada lo saat itu, dan karena tepat hari ultahku kami ngadain perayaan sederhana skaligus syukuran rumah baru sambil ngundang pemilik rumah, tetangga sekitar dan 2 orang temen seperjuanganku. Aku rasa perayaan ultahku tahun ini memiliki kesan tersendiri …segalanya serba istimewa karena berada di tempat spesial, bersama sejumlah orang-orang spesial, suasana spesial (pekerjaan baru, temen2 baru dan lingkungan yang baru).
Nah karena urusan rumah dah selesai, giliran selanjutnya adalah beli-beli perabotan rumah. Aku kan seumur-umur jarang banget berurusan beli-beli barang perlengkapan rumah tangga. Untungnya ibuku nafsu banget untuk urusan beli2 semacam itu. Gak banyak yang dibeli untuk pertama, selain kelengkapan dapur dan urusan masak, karpet untuk lantai rumah, kasur, trus paling perlengkapan untuk mck. Aku aja baru belajar masak nih. Pengennya pake rice cooker tapi karena kupikir2 aku jarang ada waktu buat masak, yah akhirnya lebih banyak katering. Perlengkapan masak kepake nya paling cuman buat merebus air sama masak mie instant. Atau kalo datang ribhan sama haris untuk nginep di rumahku baru kami masak, sambil nonton film atau main games di komputerku. Malam minggu nginap trus besok paginya kita jalan ke pinggir pantai sambil ngecengin cewek yang berolahraga pagi di lapangan dekat pinggir pantai tersebut. Yah bagaimanapun hal semacam itu cukup manjur sebagai obat penghilang stress setelah sibuk berkutat dengan pekerjaan mengajar di sekolah. Paling….. apesnya adalah ketika asyik ngecengin ABG eh ternyata yang dikecengin adalah anak murid kita sendiri yang dengan lugunya manggil kita Bapak. Jadi rusak deh acara, pasaran kita jadi anjlok drastis!
Walhasil…..rumah kecilku emang nyaman untuk didiami, sayangnya belum banyak perabotan atau kelengkapan rumah tangga yang kumiliki. Insya allah pertengahan agustus ini semua adik2ku akan datang (kakakku gak bisa ikut karena operasi penyembuhan kakinya belum selesai padahal dia pengen banget untuk bisa liat kotabaru dan rumahku), trus yang udah mendaftar mo ikut tour ke kotabaru termasuk tanteku (adik ibuku), ibuku sendiri (ayahku gak ikut karena banyak tugas di sekolah), nenek dari pihak ibuku dan sejumlah tetangga kami di Banjarmasin. Mo rombongan katanya, makanya skalian aja kutitip sejumlah alat perlengkapan rumah tangga yang bisa dibawa ke kotabaru ya dibawa aja. Biar aku gak usah beli lagi…… kan lumayan!
Tentang sekolahan/MAN Kotabaru
Jarak rumahku dengan sekolahan cukup dekat, hanya saja sayangnya lokasi sekolah kami ada 2. Bangunan lama ya yang dekat rumah kontrakanku, jalan kaki kadang cuman 5 menit doang udah nyampe (kecuali jika ketemu anak-anak dan diajak ngobrol dulu oleh mereka di jalan). Trus satunya lagi (biasanya anak2 nyebutnya MAN atas) gak jauh juga sih mungkin sekitar 5-7 menit naik angkot sudah nyampe. Karena aku belum bawa motor sendiri, jadi kalo harus ke sekolah or MAN atas ya harus nyegat angkot. Kotabaru adalah ibukota kabupaten yang wilayahnya gak terlalu luas, angkotnya pun gak punya jurusan. Pokoknya naik aja ntar sebut tujuan kita mo ke mana, insya Allah akan diantar. Soal tranportasi di sini cukup banyak dan cukup murah, mungkin karena kotanya kecil trus persaingan cukup tinggi sehingga yang diuntungkan malah konsumen. Ada angkutan becak, angkot, ojek dan speedboat atau ferry kalo mo nyebrang (kotabaru adalah kota yang berada di pinggir laut lo, daerah pinggir pantai lah gitu!).
Eh udah dulu ya ceritanya. Ntar aja deh di lain kesempatan aku ceritain soal sekolahan dan suasana kerja di MAN tersebut. Juga cerita tentang siswa dan guru-guru di sana. Banyak hal yang bisa dan menarik untuk kuceritakan ke vita, misalnya soal suka duka menjadi guru baru dan repotnya menghindar dari kejaran fans yang mo minta tanda tangan (lo????). Cara ngajar aku dan respon anak-anak, soal aku yang oleh pihak sekolah dianggap terlalu moderat (terlalu ‘gaul’) ke anak-anak dan dianggap akan menularkan sikap pemberontakan yang berbahaya buat sekolah, kritik mereka terhadap sikap longgar aku akan peraturan dan tatib sekolah yang ada, soal manajemen sekolah yang agak amburadul, dan banyak hal lain lagi yang menarik untuk kita perbincangkan. Mudah2an aku masih bisa nulis dan selalu sempat untuk berkirim kabar ke adek. Mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan kata yang mungkin ada dalam surat ini.
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Zainal Muttaqien







Komentar Terakhir